Santri Darul Abror IBS berdiskusi cara menangkal hoaks dan informasi salah tentang Islam.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, para santri Darul Abror IBS yang dirahmati Allah!. Gimana kabarnya hari ini ? Semoga selalu semangat tholabul ‘ilmi dan dalam lindungan Allah SWT. Eh, ngomong-ngomong soal dunia maya nih, antum semua pasti udah nggak asing lagi kan sama yang namanya media sosial, grup WhatsApp, atau portal berita online? Zaman sekarang, informasi tuh udah kayak air bah, ngalir deras banget dan gampang banget kita akses. Akan tetapi, di tengah kemudahan itu, ada juga nih tantangan gedenya: hoaks dan informasi salah, apalagi yang menyangkut agama kita tercinta, Islam. Duh, kalau nggak hati-hati, bisa-bisa kita ikut nyebarin atau malah termakan isu yang nggak bener. Oleh karena itu, penting banget buat kita, sebagai santri yang jadi harapan umat, buat punya jurus ampuh menangkal semua itu. Artikel ini bakal ngebahas tuntas gimana caranya kita, para santri Darul Abror IBS, bisa jadi garda terdepan dalam menangkal hoaks tentang Islam. Siap? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

1. Kenalan Dulu Yuk: Apa Sih Hoaks dan Informasi Salah Itu?

Sebelum kita masuk ke jurus-jurus jitunya, penting banget nih buat kita paham dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan hoaks dan informasi salah. Meskipun sering disebut barengan, keduanya punya sedikit perbedaan, lho.

A. Membedah Hoaks: Si Biang Kerok Penyebar Kebohongan

Hoaks itu, gampangnya, adalah informasi bohong yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk nipu orang lain. Tujuannya macem-macem, bisa buat bikin gaduh, ngejatuhin nama baik seseorang atau kelompok, atau bahkan buat cari keuntungan pribadi. Ciri khas utama hoaks adalah adanya niat jahat dari si pembuat untuk menyesatkan. Misalnya, ada berita yang bilang kalau produk makanan tertentu haram padahal MUI udah menyatakan halal, nah itu bisa jadi hoaks.

B. Misinformasi: Salah Kaprah yang Tak Disengaja (Tapi Tetap Bahaya!)

Nah, kalau misinformasi itu sedikit beda. Misinformasi adalah informasi yang salah, tapi orang yang menyebarkannya nggak sadar kalau informasi itu salah. Mungkin dia dapet dari sumber yang nggak jelas terus langsung percaya dan nge-share. Jadi, bedanya di niat. Kalau hoaks itu sengaja bohong, misinformasi itu salah tapi nggak sengaja. Contohnya, ada yang nge-share tentang keutamaan ibadah tertentu yang dalilnya lemah atau bahkan nggak ada, tapi dia sendiri nggak tahu kalau itu salah. Meskipun nggak ada niat jahat, misinformasi tetep aja bisa bahaya kalau udah menyebar luas.

C. Kenapa Ya Hoaks dan Misinformasi Soal Islam Sering Banget Nongol?

Antum pernah kepikiran nggak, kenapa sih isu-isu agama, khususnya Islam, sering banget jadi sasaran hoaks dan misinformasi? Ada beberapa alasan yang mungkin jadi penyebabnya:

  1. Sentimen Agama yang Kuat: Agama itu kan sesuatu yang sensitif dan personal buat banyak orang. Akibatnya, informasi yang nyerempet-nyerempet agama, apalagi kalau provokatif, gampang banget bikin orang emosi dan langsung bereaksi tanpa mikir panjang.
  2. Kurangnya Pemahaman Agama yang Mendalam: Sayangnya, nggak semua orang punya pemahaman agama yang cukup buat ngefilter informasi. Kadang-kadang, judul yang bombastis atau kutipan yang dipelintir bisa langsung dipercaya gitu aja.
  3. Tujuan Tertentu: Nggak bisa dipungkiri, ada pihak-pihak yang sengaja bikin hoaks tentang Islam buat tujuan tertentu, misalnya buat mendiskreditkan Islam, memecah belah umat, atau buat kepentingan politik.
  4. Kecepatan Penyebaran di Era Digital: Dengan adanya media sosial, hoaks dan misinformasi jadi super gampang menyebar. Sekali klik, udah bisa nyampe ke ribuan bahkan jutaan orang dalam sekejap. Ngeri, kan?

2. Dampak Negatif Hoaks dan Informasi Salah Tentang Islam: Jangan Anggap Remeh!

Mungkin ada yang mikir, “Ah, cuma berita bohong doang, ngapain dipikirin?” Eits, jangan salah! Dampak negatif dari hoaks dan misinformasi tentang Islam ini serius banget lho, apalagi buat kita sebagai santri.

A. Merusak Citra Islam dan Umat Muslim di Mata Dunia

Salah satu dampak paling bahaya adalah rusaknya citra Islam dan umat Muslim. Hoaks yang ngegambarin Islam sebagai agama yang kejam, radikal, atau anti-kemajuan, tentu saja bisa bikin orang non-Muslim jadi salah paham dan punya pandangan negatif tentang kita. Padahal, Islam itu kan agama rahmatan lil ‘alamin, penuh kasih sayang dan kedamaian.

B. Menimbulkan Kebingungan dan Keraguan dalam Beragama

Buat kita para santri yang lagi semangat-semangatnya belajar agama, hoaks dan misinformasi bisa sangat membingungkan. Bayangin aja, kita diajarin A di pondok, eh di medsos ada informasi B yang bertentangan. Kalau nggak punya pegangan yang kuat, bisa-bisa kita jadi ragu sama ajaran agama kita sendiri. Ini jelas berbahaya untuk keimanan kita.

C. Memecah Belah Ukhuwah Islamiyah: Musuh dalam Selimut

Nggak jarang, hoaks dan misinformasi ini sengaja dibuat buat mengadu domba sesama umat Islam. Misalnya, berita bohong tentang kelompok Islam tertentu, atau fitnah terhadap ulama. Kalau kita gampang percaya dan ikut menyebarkan, akibatnya bisa timbul perpecahan, saling curiga, dan permusuhan di antara kita. Padahal, ukhuwah Islamiyah itu penting banget buat kita jaga.

D. Membuat Waktu dan Energi Terbuang Sia-sia

Coba bayangin, berapa banyak waktu dan energi yang kebuang buat ngebahas, nge-share, atau bahkan berdebat soal informasi yang ternyata bohong? Padahal, waktu itu bisa kita gunain buat hal-hal yang lebih positif, kayak belajar, ngaji, atau berdiskusi hal-hal yang bermanfaat.

3. Waspada! Ini Dia Ciri-Ciri Hoaks dan Informasi Salah yang Harus Santri Kenali

Biar nggak gampang kejebak, kita perlu tahu nih ciri-ciri umum dari hoaks dan informasi salah. Anggap aja ini kayak alarm buat kita.

A. Judulnya Lebay dan Provokatif Banget!

Hoaks itu sering banget pakai judul yang super heboh, provokatif, dan bikin penasaran tingkat dewa. Contohnya: “VIRAL! FAKTA MENGEJUTKAN TENTANG XYZ YANG DISEMBUNYIKAN!” atau “SEBARKAN SEBELUM DIHAPUS! BAHAYA LATEN ABC BAGI UMAT ISLAM!” Tujuannya jelas, biar kita langsung klik dan nge-share tanpa mikir.

B. Sumbernya Nggak Jelas, Kayak Gebetan Halu

Informasi yang bener itu biasanya punya sumber yang jelas dan bisa dipercaya. Sebaliknya, hoaks seringkali datang dari sumber anonim, website abal-abal, atau akun medsos yang nggak jelas juntrungannya. Kalau ada berita penting tapi nggak disebutin siapa yang ngomong atau dari mana asalnya, patut dicurigai tuh.

C. Ada Unsur Paksaan Buat Menyebarkan

“Sebarkan ke 10 grup jika Anda Muslim sejati!” atau “Jangan biarkan pesan ini berhenti di kamu!” Pernah dapet pesan kayak gitu? Nah, itu salah satu ciri khas hoaks. Informasi yang bener nggak perlu maksa-maksa buat disebarin.

D. Tata Bahasa dan Tulisannya Amburadul

Meskipun nggak selalu, banyak hoaks yang ditulis dengan tata bahasa yang kacau, banyak typo, atau penggunaan huruf kapital yang nggak beraturan. Ini bisa jadi indikasi kalau informasinya nggak dibuat secara profesional.

E. Minta Data Pribadi yang Aneh-Aneh

Kalau ada informasi yang ujung-ujungnya minta data pribadi kita kayak nomor KTP, PIN ATM, atau password, langsung waspada! Bisa jadi itu modus penipuan berkedok informasi penting.

F. Sering Mencatut Nama Tokoh atau Lembaga Terkenal

Untuk meyakinkan pembaca, pembuat hoaks seringkali mencatut nama tokoh agama terkenal, ulama, atau lembaga resmi Islam tanpa izin. Mereka berharap dengan membawa nama besar, kebohongan mereka jadi lebih mudah dipercaya.

4. Jurus Jitu Santri Darul Abror IBS dalam Menangkal Hoaks Tentang Islam

Nah, ini dia bagian yang paling ditunggu-tunggu! Sebagai santri milenial yang cerdas dan berakhlak, kita punya banyak senjata ampuh buat melawan hoaks dan informasi salah tentang Islam. Apa aja tuh?

A. Tabayyun: Filter Utama Santri Cerdas di Era Digital

Ini adalah jurus paling fundamental dan paling Islami. Tabayyun artinya mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar-benar jelas dan benar. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk tabayyun dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Dengan kata lain, jangan langsung nelen mentah-mentah setiap informasi yang kita terima.

  1. Apa Sih Sebenarnya Tabayyun Itu? Secara sederhana, tabayyun adalah proses verifikasi atau klarifikasi informasi. Ini melibatkan sikap kritis, tidak mudah percaya, dan berusaha mencari fakta dari sumber yang benar sebelum menyimpulkan atau menyebarkan informasi. Prinsipnya, lebih baik kita hati-hati daripada menyesal kemudian.
  2. Gimana Cara Praktis Tabayyun di Zaman Now?
    • Cek Sumbernya: Siapa yang nyebarin? Apakah sumbernya kredibel? Website resmi atau abal-abal? Akun medsos asli atau palsu?
    • Bandingkan dengan Sumber Lain: Jangan cuma percaya satu sumber. Coba cari berita atau informasi serupa dari website berita mainstream yang terpercaya atau dari lembaga Islam resmi. Jika informasinya penting, pasti banyak yang bahas.
    • Periksa Keaslian Foto atau Video: Zaman sekarang, foto dan video gampang banget diedit. Gunakan tools kayak Google Image Search buat ngecek keaslian gambar.
    • Jangan Terpancing Emosi: Hoaks sering mainin emosi kita. Kalau ada berita yang bikin kita marah atau sedih banget, coba tenang dulu. Justru saat emosi, kita jadi gampang salah ambil keputusan.
    • Tanya Ahlinya: Kalau informasinya terkait hukum Islam atau isu sensitif lainnya, jangan ragu buat tanya ke ustadz, guru ngaji, atau orang yang lebih paham di Darul Abror IBS.

B. Tingkatkan Literasi Digital dan Kedalaman Ilmu Agama: Bekal Tak Ternilai

Selain tabayyun, bekal penting lainnya adalah literasi digital dan pemahaman agama yang kuat.

  1. Pentingnya Pondasi Ilmu Agama yang Kokoh: Semakin dalam ilmu agama kita, semakin peka kita terhadap informasi yang menyimpang. Dengan bekal Al-Qur’an, Hadits, dan pemahaman para ulama yang lurus, kita bisa lebih mudah mengenali mana ajaran yang benar dan mana yang ngaco. Makanya, semangat terus ngajinya di pondok, ya!
  2. Jadi Santri Kritis, Bukan Sekadar Penerima Informasi: Literasi digital itu bukan cuma soal bisa pakai gadget, tapi juga kemampuan buat menganalisis, mengevaluasi, dan membuat informasi secara bijak. Artinya, kita harus jadi pembaca yang kritis, bukan cuma nerima semua informasi gitu aja. Selalu pertanyakan: “Apakah ini masuk akal?” “Apa buktinya?” “Siapa yang diuntungkan dari informasi ini?”

C. Selalu Rujuk ke Sumber yang Terpercaya: Jangan Salah Alamat!

Dalam urusan agama, kita nggak boleh sembarangan ambil ilmu. Pastikan kita selalu merujuk ke sumber-sumber yang jelas sanadnya dan diakui keilmuannya.

  1. Siapa Aja Sih Sumber Terpercaya Itu?
    • Al-Qur’an dan As-Sunnah: Ini adalah dua sumber utama ajaran Islam yang nggak ada keraguan di dalamnya.
    • Ulama dan Ahli Agama yang Kompeten: Para pewaris Nabi, yaitu ulama-ulama yang lurus akidahnya, luas ilmunya, dan diakui integritasnya. Di Darul Abror IBS, antum punya para ustadz dan guru yang bisa jadi rujukan.
    • Lembaga-Lembaga Islam Resmi: Seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama, atau lembaga-lembaga fatwa yang kredibel.
    • Kitab-Kitab Mu’tabar: Karya-karya ulama salaf dan khalaf yang sudah teruji dan diakui oleh umat Islam sepanjang masa.
  2. Hati-Hati dengan “Ustadz Google” dan “Kyai YouTube” yang Nggak Jelas: Memang, internet itu gudangnya informasi. Tapi, nggak semua yang ngaku “ustadz” di internet itu beneran punya kapasitas ilmu yang mumpuni. Banyak juga yang cuma modal berani ngomong tanpa dasar ilmu yang kuat. Jadi, selektif ya, jangan sampai salah guru!

D. Saring Sebelum Sharing: Pikirkan Dampaknya!

Ini nih kebiasaan yang harus kita tanamkan kuat-kuat. Sebelum jari kita gatel nge-klik tombol “share” atau “forward”, berhenti sejenak dan pikirkan:

  • Apakah informasi ini sudah pasti benar? (Sudah tabayyun belum?)
  • Apakah informasi ini bermanfaat?
  • Apakah kalau disebar malah bikin gaduh atau fitnah?
  • Apa dampaknya buat diriku dan orang lain?

Ingat sabda Nabi Muhammad SAW: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim). Artinya, nggak semua yang kita dengar atau baca itu boleh langsung kita sebarluaskan. Kita punya tanggung jawab moral atas apa yang kita sebarkan.

E. Diskusi Sehat dengan Guru dan Teman yang Paham: Bertukar Pikiran Itu Keren!

Kalau ada informasi yang bikin bingung atau ragu, jangan dipendam sendiri. Diskusikan dengan para asatidz di Darul Abror IBS atau dengan teman-teman santri lain yang antum anggap punya pemahaman lebih baik. Dengan berdiskusi, kita bisa dapet sudut pandang baru, klarifikasi, dan solusi. Ingat, bertukar pikiran itu bukan buat cari menang atau kalah, tapi buat cari kebenaran bersama.

5. Santri Darul Abror IBS Sebagai Agen Anti-Hoaks: Yuk, Berkontribusi!

Sebagai santri, kita punya peran strategis lho dalam memerangi hoaks dan misinformasi tentang Islam. Kita bukan cuma jadi benteng buat diri sendiri, tapi juga bisa jadi agen perubahan positif di lingkungan kita.

A. Jadilah Contoh Teladan dalam Bijak Bermedia Sosial

Tindakan nyata itu lebih ngaruh daripada seribu kata. Tunjukkan kalau kita, santri Darul Abror IBS, adalah pengguna media sosial yang cerdas, santun, dan bertanggung jawab. Jangan ikut-ikutan nyebarin hoaks, jangan mudah terpancing provokasi, dan selalu sebarkan konten-konten positif yang mencerahkan.

B. Aktif Mengedukasi Lingkungan Sekitar (Mulai dari yang Terdekat)

Kalau kita udah paham bahaya hoaks dan cara menangkalnya, jangan simpan ilmu itu sendiri. Edukasi keluarga, teman-teman di pondok, atau bahkan di lingkungan rumah kalau lagi liburan. Beri tahu mereka cara mengenali hoaks dan pentingnya tabayyun. Semakin banyak yang sadar, semakin sempit ruang gerak hoaks.

C. Manfaatkan Kreativitas untuk Konten Positif

Santri zaman now itu kreatif-kreatif, kan? Nah, manfaatin kreativitas antum buat bikin konten-konten positif tentang Islam di media sosial. Bisa berupa poster dakwah digital, video pendek, tulisan inspiratif, atau apa pun yang bisa melawan narasi negatif dan hoaks tentang Islam. Tunjukkan wajah Islam yang ramah dan damai.

6. Teknologi: Bisa Jadi Kawan, Bisa Jadi Lawan dalam Perang Melawan Hoaks

Teknologi itu kayak pisau bermata dua. Di satu sisi, bisa jadi alat yang sangat bermanfaat buat dakwah dan menyebarkan kebaikan. Tapi di sisi lain, bisa juga jadi sarana penyebaran hoaks yang efektif.

A. Maksimalkan Sisi Positif Teknologi untuk Kebaikan Umat

Gunakan internet dan media sosial untuk mencari ilmu agama dari sumber yang benar, untuk bersilaturahmi, untuk menyebarkan konten dakwah yang menyejukkan, dan untuk mengakses informasi yang bermanfaat. Banyak banget aplikasi atau website yang bisa ngebantu kita belajar Islam lebih dalam.

B. Waspadai Jebakan Algoritma Media Sosial yang Bikin Kita Terkurung

Algoritma media sosial itu dirancang buat nampilin konten yang sesuai dengan minat kita. Kedengarannya bagus, tapi ini bisa bikin kita terjebak dalam “filter bubble” atau “echo chamber”, di mana kita cuma ngeliat informasi yang sesuai sama pandangan kita aja. Akibatnya, kita jadi susah nerima pendapat beda dan gampang percaya hoaks yang sejalan sama keyakinan kita. Jadi, usahakan untuk tetap melihat berbagai perspektif.

7. Belajar dari Sejarah Islam: Hoaks Itu Bukan Barang Baru, Lho!

Mungkin antum kaget, tapi hoaks dan fitnah itu bukan fenomena baru yang cuma ada di zaman internet. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW pun, sudah ada upaya-upaya penyebaran berita bohong untuk merusak Islam dan kaum Muslimin. Contohnya, peristiwa Haditsul Ifki, yaitu berita bohong yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah RA. Dengan belajar dari sejarah, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi fitnah tersebut dengan bijaksana, kesabaran, dan tentu saja dengan petunjuk dari Allah SWT. Ini menjadi pelajaran berharga buat kita agar tidak mudah goyah oleh hoaks.

8. Jangan Lupakan Doa dan Tawakal: Benteng Spiritual Santri

Setelah semua ikhtiar kita lakukan, mulai dari tabayyun, meningkatkan literasi, sampai hati-hati dalam menyebarkan informasi, jangan pernah lupakan kekuatan doa dan tawakal kepada Allah SWT. Mohonlah selalu kepada Allah agar kita dijauhkan dari fitnah, diberi kemampuan untuk membedakan yang hak dan yang batil, dan diteguhkan hati kita di atas kebenaran. Karena sejatinya, hanya Allah yang Maha Melindungi.


Q&A

Berikut beberapa pertanyaan yang mungkin sering muncul di benak antum terkait hoaks:

Q1: Kalau saya sudah terlanjur menyebarkan hoaks, apa yang harus saya lakukan, Min?
A1: Santri yang baik, jika antum sadar sudah terlanjur menyebarkan hoaks, langkah pertama adalah jangan panik tapi segera bertindak. Hapus postingan atau share tersebut jika masih bisa. Kemudian, segera buat klarifikasi atau ralat di platform yang sama antum menyebarkannya. Akui kesalahan dan sampaikan informasi yang benar. Ini menunjukkan tanggung jawab dan kejujuran antum. Selanjutnya, tentu saja, bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji untuk lebih berhati-hati di kemudian hari.

Q2: Bagaimana cara menghadapi teman yang sering banget nyebarin hoaks di grup WhatsApp pondok?
A2: Ini situasi yang cukup umum ya. Pertama, coba dekati teman antum secara personal (japri) dengan bahasa yang baik dan santun. Tunjukkan bahwa niat antum baik, bukan untuk menyudutkan. Berikan penjelasan lembut tentang kenapa informasi tersebut kemungkinan hoaks dan ajak dia untuk sama-sama tabayyun. Jika dia ngeyel, antum bisa minta bantuan pengurus pondok atau ustadz untuk memberikan nasihat. Yang penting, jangan sampai karena hoaks, ukhuwah jadi rusak. Mungkin dia hanya kurang paham.

Q3: Apakah semua informasi yang mengkritik Islam itu pasti hoaks?
A3: Nah, ini perlu diluruskan. Tidak semua kritik terhadap Islam atau umat Islam itu otomatis hoaks. Kritik yang konstruktif dan berdasarkan data yang valid bisa jadi bahan introspeksi buat kita. Namun, bedakan antara kritik yang membangun dengan tuduhan tak berdasar, fitnah, atau informasi yang sengaja dipelintir untuk menjelek-jelekkan Islam. Di sinilah pentingnya ilmu dan kemampuan analisis kita untuk membedakannya. Selalu cek sumber dan motif di balik kritik tersebut.

Q4: Selain lapor ke pihak berwajib, apa yang bisa kita lakukan kalau menemukan hoaks yang sangat meresahkan tentang Islam?
A4: Melaporkan ke pihak berwajib seperti Kominfo atau Kepolisian Siber itu langkah yang tepat jika hoaks tersebut sudah sangat meresahkan dan berpotensi melanggar hukum. Selain itu, kita juga bisa melaporkan konten tersebut ke platform media sosialnya (Facebook, Instagram, Twitter, dll) agar segera ditindak. Secara internal di lingkungan santri, kita bisa memperkuat edukasi tentang bahaya hoaks tersebut dan mengarahkan teman-teman untuk merujuk pada klarifikasi dari sumber-sumber Islam yang terpercaya. Jangan ikut menyebarkannya, bahkan untuk tujuan “memberi tahu” kalau itu hoaks, kecuali disertai dengan bantahan yang jelas.


9. Kesimpulan Khusus untuk Para Santri Kebanggaan Darul Abror IBS

Para santri Darul Abror IBS yang insya Allah akan menjadi penerus perjuangan para ulama, Perjalanan kita dalam menuntut ilmu di pondok pesantren ini bukan hanya tentang mengisi kepala dengan hafalan dan pengetahuan. Lebih dari itu, kita ditempa untuk memiliki karakter Islami yang kuat, termasuk sikap kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menyikapi informasi.

Ingatlah selalu, hoaks dan informasi salah tentang Islam adalah racun yang bisa merusak akidah, memecah belah ukhuwah, dan mencoreng citra agama kita yang mulia ini. Sebagai seorang santri, antum punya peran yang sangat vital. Antum adalah agen-agen kebaikan, penyaring informasi, dan penjaga kemurnian ajaran Islam di tengah derasnya arus informasi digital.

Jadikanlah prinsip tabayyun sebagai nafas antum dalam berinteraksi dengan informasi. Bekali diri dengan ilmu agama yang kokoh dan literasi digital yang mumpuni. Jangan pernah lelah untuk belajar, bertanya, dan berdiskusi dengan para guru dan teman-teman. Dan yang terpenting, jangan pernah asal sebar informasi sebelum jelas kebenarannya. Setiap apa yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Marilah kita bersama-sama, para santri Darul Abror IBS, menjadi benteng yang kokoh dalam menangkal hoaks tentang Islam. Jadilah generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan bijak dalam bersikap. Dengan demikian, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri dari bahaya hoaks, tetapi juga turut menjaga kemuliaan Islam dan keutuhan umat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *